MASYARAKAT JAWA
(YOGYAKARTA)
Disusun untuk
memenuhi Mata Kuliah Sosiantropologi Pendidikan
Disusun
oleh :
1.
Astina Pratiwi ( 2017015262 )
2.
Diah Ristiana ( 2017015244 )
3.
Kunti Wulandar ( 2017015246 )
4.
Diah Ayu Citra Agustina ( 2017015247 )
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS
SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2017
UPACARA DAUR HIDUP MASYARAKAT JAWA (YOGYAKARTA)
A.
Upacara Daur Hidup dalam
Fase Kehamilan - Persalinan
Upacara daur hidup sendiri, dilaksanakan sejak ada tanda-tanda kehamilan
sampai manusia meninggal dunia dengan jangka waktu tertentu. Di dalam masa
kehamilan sendiri ada berbagai jenis upacara tradisi yang harus dilakukan, yaitu
mulai dari upacara Ngabor-abori. Upacara ini adalah sebuah peringatan
atau Selamatan bulan pertama yang biasanya dilakukan dengan wujud
membuat jenang sungsum.
Setelah itu berturut-turut di bulan berikutnya masih terdapat upacara
tradisi lain seperti Ngloroni (dua bulanan), Neloni (tiga
bulanan), Ngapati (empat bulanan), Nglimani (lima bulanan), Mitoni
(tujuh bulanan), Ngwoloni (delapan bulanan), dan Nyangani
(sembilan bulanan), dimana masing-masing upacara membutuhkan persiapan dan ubarampe
(kelengkapan upacara) yang berbeda-beda.
Selanjutnya
adalah masa persalinan.
Upacara tradisi untuk menyongsong masa kelahiran bayi ini juga
diselenggarakan ke dalam beberapa tahapan.
1.
Mulai dari Mendhem
ari-ari, yaitu proses perawatan dan penguburan ari-ari bayi. Ari-ari
secara medis merupakan sebuah organ yang berfungsi untuk menyalurkan berbagai
nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin di dalam rahim. Lewat ari-ari
juga zat-zat antibodi, berbagai hormon dan gizi disalurkan sehingga janin
bisa tumbuh dan berkembang menjadi bayi. Bagi orang jawa ari-ari memiliki
“jasa” yang cukup besar sebagai batir bayi (teman bayi) sejak dalam
kandungan. Oleh karena itu sejak fungsi utama ari-ari berakhir
ketika bayi lahir, organ ini akan tetap dirawat dan dikubur sedemikian
rupa agar tidak dimakan binatang ataupun membusuk di tempat sampah. Upacara mendhem
ari-ari ini biasanya dilakukan oleh sang ayah, berada di dekat pintu utama
rumah, diberi pagar bambu dan penerangan berupa lampu minyak selama 35 hari (selapan).
2.
Brokohan,
yaitu selamatan yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus
pemberitahuan kepada sanak keluarga dan para tetangga bahwa bayi telah lahir
dan selamat. Brokohan merupakan salah satu upacara tradisi jawa untuk
menyambut kelahiran bayi yang dilaksanakan sehari setelah bayi lahir. Kata Brokohan
sendiri berasal dari kata barokah-an, yang artinya memohon berkah dan
keselamatan atas kelahiran bayi. Dalam acara ini biasanya para tetangga dekat
dan sanak saudara berdatangan berkumpul sebagai tanda turut bahagia atas
kelahiran bayi yang dapat berjalan dengan lancar. Tak sedikit para tetangga
yang membawa bermacam oleh-oleh berupa perlengkapan bayi dan makanan untuk
keluarga yang melahirkan.
3.
Sepasaran,
yaitu upacara untuk memperingati bahwa bayi yang lahir telah berusia 5 hari (sepasar).
Sepasaran menjadi salah satu upacara adat jawa yang dilakukan setelah
lima hari sejak kelahiran bayi. Dalam acara ini pihak keluarga mengundang
tetangga sekitar beserta keluarga besar untuk ikut mendoakan atas bayi yang
telah dilahirkan. Acara sepasaran secara sederhana biasanya dilakukan
dengan kenduri, bagi yang memiliki rejeki yang lebih biasanya dilaksanakan
seperti orang punya hajat (mantu). Adapun inti dari acara sepasaran ini adalah
upacara selamatan sekaligus mengumumkan nama bayi yang telah lahir.
4.
Puputan,
yaitu selamatan saat tali pusar bayi sudah putus (usia antara 10 hari sampai
dua minggu). Upacara puputan dilakukan ketika tali pusar yang menempel
pada perut bayi sudah putus. Pelaksanaan upacara ini biasanya berupa kenduri
memohon pada Tuhan YME agar si anak yang telah puput puser selalu
diberkahi, diberi keselamatan dan kesehatan. Orang tua jaman dulu melaksanakan
upacara puputan dengan menyediakan berbagi macam sesaji, namun
masyarakat jawa modern biasanya acara puputan dibuat bersamaan dengan
upacara sepasaran ataupun selapanan, hal ini tergantung kapan
tali pusar putus dari pusar bayi.
5.
Aqiqah,
Akulturasi budaya Jawa-Islam sangat terlihat dalam upacara Aqiqah.
Upacara yang dilakukan setelah tujuh hari kelahiran bayi ini biasanya
dilaksanakan dengan penyembelihan hewan kurban berupa domba/kambing. Jika anak
yang dilahirkan laki-laki biasanya menyembelih dua ekor kambing, dan bila anak
yag dilahirkan adalah perempuan maka akan menyembelih satu ekor kambing.
6.
Selapanan,
yaitu selamatan saat usia bayi 35 hari. Upacara selapanan ini dilangsungkan
dengan rangkaian acara bancakan weton (kenduri hari kelahiran),
pemotongan rambut bayi hinngga gundul dan pemotongan kuku bayi. Pemotongan
rambut dan kuku ini bertujuan untuk menjaga kesehatan bayi agar kulit kepala
dan jari bayi tetap bersih. Sedangkan bancakan selapanan dimaksudkan
sebagai rasa syukur atas kelahiran bayi, sekaligus sebah doa agar kedepannya si
jabang bayi selalu diberi kesehatan, cepat besar, dan berbagai doa kebaikan
lainnya.
B.
Upacara Daur Hidup
dalam Fase Pertumbuhan - Perkawinan
Setelah itu apabila sang anak sudah mulai mengalami pertumbuhan menjadi
dewasa, upacara tradisi juga masih dilakukan.
1.
SAAT
KECIL/BAYI
Dimulai dari
1)
Tedhak Siten,
yaitu upacara selamatan pada saat anak pertama kali menginjakkan kakinya ke
tanah (usia sekitar 7-9 bulan).
2)
Nyapih,
selamatan saat sang Ibu berhenti menyusui anaknya diganti dengan disapih.
3)
Neton,
selamatan yang diadakan bertepatan dengan hari dan pasaran anak tersebut.
4)
Gaulan,
selamatan yang dilakukan saat sang anak tumbuh gigi untuk pertama kali
5)
Nyetahuni,
selamatan saat sang anak berusia tepat 1 tahun.
6)
Supitan,
yaitu upacara khitanan untuk anak laki-laki.
7)
Tetesan,
upacara serupa untuk anak perempuan, sebagai penanda peralihan masa kanak-kanak
menuju masa remaja.
8)
Tarapan,
upacara untuk anak perempuan yang menstruasi untuk pertama kali. Semua upacara
ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan bagi sang anak dalam mengarungi
berbagai dinamika hidup nantinya. Terutama saat mengalami tumbuh kembang di
dalam kehidupan.
Setelah sang anak tumbuh dewasa dan menemukan jodohnya,
mereka akan menjalani perkawinan. Upacara tradisi perkawinan Jawa menjadi salah
satu upacara tradisi yang hingga kini masih banyak dilestarikan oleh masyarakat
Jawa pada umumnya. Dapat dikatakan bahwa masa perkawinan adalah masa terpenting
dalam siklus hidup seseorang karena fase ini adalah pilihannya sendiri yang
lahir melalui proses pendewasaan dan kematangan, sedangkan proses kelahiran dan
kematian adalah suatu hal yang sudah bisa dipastikan tanpa kehendak manusia.
mengenal tiga tahapan besar.
2.
Tahap
pra-nikah, tahap pernikahan, dan tahap paska-nikah.
a)
TAHAP PRA
NIKAH
1.
Nontoni
Nontoni adalah tahap awal dalam proses
menuju pernikahan. Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang
akan dinikahinya. Jaman dulu, atau beberapa puluh tahun yang lalu, orang yang
akan menikah belum tentu tahu dan kenal dengan orang yang akan dinikahinya.
Prosesi ini bertujuan agar calon pengantin ada gambaran siapa dan seperti apa
jodohnya nanti. Biasanya prosesi ini diprakarsai pihak pria. Sebelum acara
nontoni, orangtua pihak laki-laki sudah menyelidiki tentang keadaan si gadis
yang akan diambil menantu. Penyelidikan ini dinamakan dom sumuruping banyu atau
penyelidikan secara rahasia. Jika hasil nontoni memuaskan, dan si perjaka
menerima pilihan orangtuanya, maka selanjutnya diadakan musyawarah diantara
orangtua/ pinisepuh si perjaka untuk menentukan tata cara lamaran.
2.
Lamaran
Setelah acara Nontoni dan calon dan si
perjaka menerima pilihan orangtuanya, selanjutnya dilanjutkan acara lamaran.
Melamar berarti meminang, karena pada zaman dulu diantara calon pengantin pria
dan wanita kadang masih belum saling mengenal. Oleh karena itu, orang tualah
yang mencarikan jodoh dan menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah
atau belum mempunyai calon suami. Dari sini kemudian bisa dirembug hari baik
untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama. Pada hari yang telah
ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan dari pihak calon pengantin pria
dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu biasa disebut Jodang (tempat makanan
dan lain sebagainya) yang dipikul oleh empat orang pria. Makanan tersebut
biasanya terbuat dari beras ketan antara lain : Jadah, Wajik, Rengginang dan
sebagainya. Mengapa terbuat dari bahan ketan, hal ini karena sifat dari bahan
baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua
pengantin dan antar besan tetap lengket, kalau dalah bahasa Jawa “Pliket”.
Setelah lamaran diterima, kedua belah pihak kemudian merundingkan hari baik
untuk melaksanakan upacara peningsetan. Sebagiab besar masyarakat Jawa masih
melestarikan system pemilihan hari pasaran pancawara dalam menentukan hari baik
untuk upacara peningsetan dan hari ijab pernikahan.
3.
Jawaban
Jika
lamaran diterima, maka pihak orangtua calon mempelai wanita mengirimkan utusan
untuk memberikan jawaban atas lamaran dari pihak calon mempelai pria. Setelah
ada kesepakatan waktu dari kedua belah pihak, utusan tersebut datang dan
memberikan jawaban bahwa lamaran si pria diterima. Utusan tersebut membawa
oleh-oleh sebagai balasan untuk mempererat persaudaraan. Setelah lamaran
diterima, kedua belah pihak sama-sama merundingkan hari, tanggal dan waktu
dilaksanakan peningsetan.
4.
Peningsetan
Peningsetan berasal dari kata dasar
singset (Jawa) yang berarti ikat, jadi peningsetan berarti pengikat.
Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari
orangtua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin puteri. Menurut
tradisi peningset terdiri dari Kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan
emas, uang yang biasa disebut tukon, ini disesuaikan dengan kemampuan
ekonominya. Jodang yang berisi Jadah, wajik, rengginang, gula, the, pisang raja
satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu
jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gading Nala
Ganjur. Kemudian penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua
pihak setelah acara peningsetan.
5. Pasangtarub / Tuwuhan
Pasang tarub di pintu gerbang kediaman calon mempelai mengawali
serangkaian upacara pernikahan Adat Jawa Yogyakarta. Hal tersebut merupakan
penanda sekaligus berita, bahwa sang empunya rumah akan mengadakan hajatan
mantu. Tarub sendiri merupakan rumah-rumahan yang beratapkan daun kelapa.
Sedangkan bleketepe adalah anyaman yang juga terbuat dari daun kelapa. Dilihat
dari sejarah, tradisi tersebut dilakukan pertama kali oleh salah satu leluhur
raja-raja Mataram, yakni Ki Ageng Tarub. Saat itu, sang raja menikahkan
putrinya Dewi Nawangsih dengan Bondan Kejawan.
Sementara tuwuhan yang tumbuh merupakan harapan orang tua agar anak yang
akan dinikahkan memperoleh keturunan yang baik, cukup sandang dan pangan.
Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan dipasang di sebelah kanan dan kiri pintu. Terdiri
dari, dua batang pohon pisang raja yang buahnyatua/matang, dua jangjang gading
(cengkir gading Jawa), dua untai padi yang sudah tua, dua batang pohon tebu
wulung (tebu hitam) yang lurus, daun beringin secukupnya dan daun dadap srep.
6.
Nyantri
Upacara
nyantri adalah menitipkan calon pengantin pria kepada keluarga pengantin putri
1 sampai 2 hari sebelum pernikahan. Calon pengantin pria ini akan ditempat kan
dirumsh saudara atau tetangga dekat. Upacara nyantri ini dimaksudkan untuk
melancarkan jalannya upacara pernikahan, sehingga saat-saat upacara pernikahan
dilangsungkan maka calon pengantin pria sudah siap dit3empat sehingga tidak
merepotkan pihak keluarga pengantin putri.
7.
Siraman
Siraman dari kata dasar siram (Jawa)
yang berarti mandi. Yang dimaksud dengan siraman adalah memandikan calon
pengantin yang mengandung arti membershkan diri agar menjadi suci dan murni.
Bahan-bahan untuk upacara siraman :
·
Kembang setaman secukupnya
·
Lima macam konyoh panca warna (penggosok
badan yang terbuat dari beras kencur yang dikasih pewarna)
·
Dua butir kelapa hijau yang tua yang
masih ada sabutnya.
·
Kendi atai klenting
·
Tikar ukuran ½ meter persegi
·
Mori putih ½ meter persegi
·
Daun-daun : kluwih, koro, awar-awar,
turi, dadap srep, alang-alang
·
Dlingo bengle
·
Lima macam bangun tulak (kain putih yang
ditepinnya diwarnai biru)
·
Satu macam yuyu sekandang (kain lurik
tenun berwarna coklat ada garis-garis benang kuning)
·
Satu macam pulo watu (kain lurik
berwarna putih lorek hitam), 1 helai letrek (kain kuning), 1 helai jinggo (kain
merah).
·
Sampo dari londo merang (air dari merang
yang dibakar didalam jembangan dari tanah liat kemudian saat merangnya habis
terbakar segera apinya disiram air, air ini dinamakan air londo)
·
Asem, santan kanil, 2meter persegi mori,
1 helai kain nogosari, 1 helai kain grompol, 1 helai kain semen, 1 helai kain
sidomukti atau kain sidoasih
·
Sabun dan handuk. Saat akan melaksanakan
siraman ada petuah- petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di
simbulkan dalam:
- Tumpeng
robyong
- Tumpeng
gundul
-
Nasi asrep-asrepan
- Jajan
pasar, pisang raja 1 sisir, pisang pulut 1 sisir, 7 macam jenang
- Empluk
kecil (wadah dari tanah liat) yang diisi bumbu dapur dan sedikit beras
- 1
butir telor ayam mentah
- Juplak
diisi minyak kelapa
- 1
butir kelapa hijau tanpa sabut
- Gula
jawa 1 tangkep
- 1
ekor ayam jantan
Untuk menjaga kesehatan
calon pengantin supaya tidak kedinginan maka ditetapkan tujuh orang yang
memandikan, tujuh sama dengan pitu (Jawa) yang berarti pitulung (Jawa) yang
berarti pertolongan. Upacara siraman ini diakhiri oleh juru rias (pemaes)
dengan memecah kendi dari tanah liat.
8.
Adol
dawet
Prosesi
adol dawet dilaksanakan setelah siraman. Proses ini dilakukan oleh kedua orang
tua calon pengantin wanita. Ibu calon pengantin sebagai penjual, sedangkan
bapak nya yang memegang payung untuk memayungi ibu.
Pembeli
pada prosesi ini adalah para tamu yang menggunakan uang pecahan berupa genteng
atau kreweng. Upacara ini memiliki harapan agar, nantinya pada saat upacara
panggih atau resepsi, banyak tamu dan rezeki yang datang.
9.
Upacara
Langkahan
Langkahan
berasal dari kata dasar langkah (Jawa) yang berarti lompat, upacara langkahan
disini dimaksudkan apabila pengantin menikah mendahului kakaknya yang belum
nikah , maka sebelum akad nikah dimulai maka calon pengantin diwajibkan minta
izin kepada kakak yang dilangkahi.
10. Midodareni
Midodareni berasal dari kata dasar
widodari (Jawa) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik
dan sangat harum baunya. Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00
sampai dengan jam 24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon
penganten tidak boleh tidur. Saat akan melaksanakan midodaren ada petuah-
petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:
·
Sepasang kembarmayang (dipasang di kamar
pengantin)
·
Sepasang klemuk (periuk) yang diisi
dengan bumbu pawon, biji-bijian, empon-empon dan dua helai bangun tulak untuk
menutup klemuk tadi
·
Sepasang kendi yang diisi air suci yang
cucuknya ditutup dengan daun dadap srep (tulang daun / tangkai daun), Mayang
jambe (buah pinang), daun sirih yang dihias dengan kapur.
·
Baki yang berisi potongan daun pandan,
parutan kencur, laos, jeruk purut, minyak wangi, baki ini ditaruh dibawah tepat
tidur supaya ruangan berbau wangi.
Adapun
dengan selesainya midodareni saat jam 24.00 calon pengantin dan keluarganya
bias makan hidangan yang terdiri dari :
-
Nasi gurih
-
Sepasang ayam yang dimasak lembaran
(ingkung, Jawa)
-
Sambel pecel, sambel pencok, lalapan
-
Krecek
-
Roti tawar, gula jawa
-
Kopi pahit dan teh pahit
-
Rujak degan
-
Dengan lampu juplak minyak kelapa untuk
penerangan (jaman dulu)
b)
TAHAP
PERNIKAHAN
1)
Ijab Qobul
Ijab atau ijab kabul adalah pengesahan pernihakan sesuai agama pasangan
pengantin. Secara tradisi dalam upacara ini keluarga pengantin perempuan
menyerahkan / menikahkan anaknya kepada pengantin pria, dan keluarga pengantin
pria menerima pengantin wanita dan disertai dengan penyerahan emas kawin bagi
pengantin perempuan. Upacara ijab qobul biasanya dipimpin oleh petugas dari
kantor urusan agama sehingga syarat dan rukunnya ijab qobul akan syah menurut
syariat agama dan disaksikan oleh pejabat pemerintah atau petugas catatan sipil
yang akan mencatat pernikahan mereka di catatan pemerintah
2)
Panggih
Panggih (Jawa) berarti bertemu, setelah
upacara akad nikah selesai baru upacara panggih bias dilaksanaakan,. Pengantin
pria kembali ketempat penantiannya, sedang pengantin putri kembali ke kamar
pengantin. Setelah semuanya siap maka upacara panggih dapat segera dimulai.
Untuk
melengkapi upacara panggih tersebut sesuai dengan busana gaya Yogyakarta dengan
iringan gending Jawa :
§ Gending
Bindri untuk mengiringi kedatangan penantin pria
§ Gending
Ladrang Pengantin untuk mengiringi upacara panggih mulai dari balangan (saling
melempar) sirih, wijik (pengantin putri mencuci kaki pengantin pria), pecah
telor oleh pemaes.
§
Gending Boyong/Gending Puspowarno untuk
mengiringi tampa kaya (kacar-kucur), lambing penyerahan nafkah dahar walimah.
Setelah dahar walimah selesai, gending itu bunyinya dilemahkan untuk mengiringi
datangnya sang besan dan dilanjutkan upacara sungkeman.
Setelah upacara panggih selesai dapat diiringi
dengan gending Sriwidodo atau gending Sriwilujeng. Pada waktu kirab diiringi
gending : Gatibrongta, atau Gari padasih.
c)
TAHAP
PASCANIKAH
1. Upacara
nggunduh mantu pengantin adat Jawa atau boyongan
Ngunduh mantu terdiri
dari dua kata, Ngunduh yang artinya panen atau memanen dan mantu artinya
menantu. Bila digabungkan, bukan berarti panen menantu, tetapi arti sebenarnya
adalah mendapatkan seorang menantu. Yaitu ketika orangtua menikahkan anak laki
lakinya, kemuadian si istri dibawa untuk tinggal bersamasuami dan kedua orang
tuanya, maka keluarga tersebut mendapatkan anggota tambahan. Upacara nggunduh
mantu biasanya dilaksanakan setelah menyelenggarakan upacara pernikahan di
rumah mempelai wanita. Upacara nggunduh mantu dilakukan oleh orangtua mempelai
pria dirumahnya dengan mendatangkan kedua pengantin dan keluarga mempelai
wanita, acara ini dilangsungkan setelah lima hari sejak digelarnya upacara
perkawinan atau orang jawa biasa menyebutnya sepasar (lima hari). Upacara
ngunduh mantu dilakukan untuk mngenalkan mempelai wanita kepada keluarga besar
dari pihak mempelai pria, sebagai bentuk woro-woro atau pengumuman kepada
tetangga bahwa mempelai pria tersebut sudah beristri. Selain itu, upacara
ngunduh mantu juga bertujuan untuk mengisyaratkan bahwa pria harus menjadi
pelindung, pengayom bagi istri dan anak-anaknya kelak. Dan juga sebagai
ungkapan syukur bagi keluarga pengantin pria.
C.
Upacara Daur Hidup
dalam Fase Kematian
Fase terakhir adalah kematian, yaitu proses meninggalnya manusia setelah
melalui banyak tahapan dalam kehidupan dan mengalami tugas-tugas perkembangan
sedari lahir, masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa, hingga tua. Dalam hal ini,
upacara tradisi Jawa untuk memperingati kematian dapat diurutkan ke dalam
berbagai prosesi.
1.
Lelayu (memberitakan kematian),
2.
Ngrukti Laya (mengurus jenazah dari memandikan,
memberangkatkan jenazah, kegiatan sepanjang menuju makam, sampai doa di
pemakaman), termasuk urusan administrasi yang berkaitan dengan kematian.
Lalu ada juga upacara ritual kematian yang meliputi :
1)
Selametan Surtanah atau Bedhah Bumi
(upacara mempersiapkan liang kubur)
2)
Telung dina (selamatan hari ketiga setelah
kematian)
3)
Pitung dina (selamatan hari ketujuh setelah
kematian)
4)
Patang puluh dina (selamatan hari keempat puluh
setelah kematian)
5)
Satus dina (selamatan seratus harian setelah
kematian)
6)
Pendhak pisan (selamatan satu tahun sejak
kematian)
7)
Pendhak pindho (selamatan dua tahun sejak
kematian)
8)
Sewu dina (selamatan seribu hari setelah
kematian).

No comments:
Post a Comment