Bagaimana
Jadi Aku
hay semua... aku Risti, ku harap kalian dapat memahami semua kata kataku yaaa... hhehehe :-)
Setiap malam sebelum tidur selalu ku habiskan waktuku untuk
membaca satu persatu pesan singkat darimu yang sengaja aku simpan sejak dulu. Tawa
kecil dan bulir bulir air mata selalu menemaniku kala itu. Entah kenapa aku tak
pernah bosan membaca semua itu. Tulisan alay dan lebay darimu selalu membuatku
tersenyum diam-diam. Sampai saat ini perasaanku tak pernah berubah, aku masih
tetap pada pendirianku yaitu DIAM dan MEMENDAM. Entah hal itu akan ku
pertahankan sampai kapan.
Setiap orang pasti pernah mengalami jatuh cinta, karena hal
itu sangat wajar terutama pada masa masa remaja. Proses yang begitu panjang
lama kelamaan semakin tumbuh kedalam dan aku semakin takut untuk mengungkapkan
itu semua. Tapi kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu sesekali tersenyum padaku
walaupun itu hanya terjadi ketika kita berdua tak sengaja berpapasan. Sifatmu yang
mudah akrab pada setiap orang semakin membuatku semakin penasaran. Rasa penasaran
itu tumbuh lagi ketika mengetahui bahwa kehadiranmu mulai mengisi kekosongan
dalam hatiku. Bahagia sekali rasanya, tapi itu dulu.
Aku sudah berharap lebih, kugantungkan perasaan ku padamu,
kuberikan seutuhnya kasih sayang serta perhatianku hanya untukmu. Tapi sayang
semua hal yang telah aku lakukan tak pernah kau gubris sedikitpun. Saat aku
berada di dekatmu, apakah kau benar-benar tak merasakan kehadiranku di dekatmu?
Saat kamu berada di sampingku apakah benar kamu tak pernah mendengar detak
jantungku yang begitu cepat? kata
orang-orang kamu adalah orang yang lebih suka menunggu, lalu apalagi yang harus
kau tunngu jika sebenarnya kamu sudah tahu bahwa aku mencintaimu? Tak mungkin
sekali jika kau tak mengerti perasaanku aneh yang sudah sekian lama berada di
hatiku. Tak mungkin juga jika kamu tak memahami perjuangan yang sebenarnya
sangat terlihat di matamu.
Sejak awal kita kenalaku selalu berharap agar kau bahagia. Lebih
beruntung sekali jika alasan kebahagiaanmu itu adalah aku. Tapi ternyata
harapanku terlalu tinggi. Apa perdulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam mata
dan hatimu. Semua kata yang terucap seolah-olah tak pernah kau dengar dalam
telingamu bahkan tak pernah kau cerna dalam otakmu. Karena aku memang tak
punyai tempat dalam hati dan pikiranmu.
Kini aku telah melihatmu bahagia dengan orang lain. Aku selalu
menganggap semua itu biasa-biasa saja. Aku selalu berusaha mengeringkan lukaku
yang semakin har malah semakin parah. Aku tak mampu lagi memimpin air mataku
agar tak jatuh sembarangan. Sulit sekali bagiku untuk melupakan orang yang
telah berada pada setiap sudut-sudut terpencil dalam otakku.
Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi untuk mengeluarkan
berbagai macam kata-kata, ketika mataku tak mampu lagi membendung air mata yang
kian lama kian membanyak. Seandainya kamu tahu yang sebenarnya, apakah kamu
akan berubah fikiran? Tapi aku sadar… aku hanyalah tempat persinggahan yang
sewaktu-waktu kamu dapat pergi kapan saja tanpa memikirkan perasaanku
sedikitpun.
Pernahkah kamu membayangkan bagaiman rasanya menjadi
seorang yang setiap hari merasakan luka yang teramat dalam? Pernahkah kamu
membayangkan bagaimana jadi aku yang harus melihatmu setiap hari bersamanya? Apa
bisa kamu bayangkan rasanya jadi seseorang yang selalu menahan tangis agar
terlihat baik-baik saja?
Terimakasih sudah membacaaaaaa... :-)
Terimakasih sudah membacaaaaaa... :-)

No comments:
Post a Comment