Pages

Sunday, 22 June 2014

Ceritaku




Bagaimana Jadi Aku
hay semua... aku Risti, ku harap kalian dapat memahami semua kata kataku yaaa... hhehehe :-)

Setiap malam sebelum tidur selalu ku habiskan waktuku untuk membaca satu persatu pesan singkat darimu yang sengaja aku simpan sejak dulu. Tawa kecil dan bulir bulir air mata selalu menemaniku kala itu. Entah kenapa aku tak pernah bosan membaca semua itu. Tulisan alay dan lebay darimu selalu membuatku tersenyum diam-diam. Sampai saat ini perasaanku tak pernah berubah, aku masih tetap pada pendirianku yaitu DIAM dan MEMENDAM. Entah hal itu akan ku pertahankan sampai kapan.

Setiap orang pasti pernah mengalami jatuh cinta, karena hal itu sangat wajar terutama pada masa masa remaja. Proses yang begitu panjang lama kelamaan semakin tumbuh kedalam dan aku semakin takut untuk mengungkapkan itu semua. Tapi kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu sesekali tersenyum padaku walaupun itu hanya terjadi ketika kita berdua tak sengaja berpapasan. Sifatmu yang mudah akrab pada setiap orang semakin membuatku semakin penasaran. Rasa penasaran itu tumbuh lagi ketika mengetahui bahwa kehadiranmu mulai mengisi kekosongan dalam hatiku. Bahagia sekali rasanya, tapi itu dulu.

Aku sudah berharap lebih, kugantungkan perasaan ku padamu, kuberikan seutuhnya kasih sayang serta perhatianku hanya untukmu. Tapi sayang semua hal yang telah aku lakukan tak pernah kau gubris sedikitpun. Saat aku berada di dekatmu, apakah kau benar-benar tak merasakan kehadiranku di dekatmu? Saat kamu berada di sampingku apakah benar kamu tak pernah mendengar detak jantungku yang  begitu cepat? kata orang-orang kamu adalah orang yang lebih suka menunggu, lalu apalagi yang harus kau tunngu jika sebenarnya kamu sudah tahu bahwa aku mencintaimu? Tak mungkin sekali jika kau tak mengerti perasaanku aneh yang sudah sekian lama berada di hatiku. Tak mungkin juga jika kamu tak memahami perjuangan yang sebenarnya sangat terlihat di matamu.
Sejak awal kita kenalaku selalu berharap agar kau bahagia. Lebih beruntung sekali jika alasan kebahagiaanmu itu adalah aku. Tapi ternyata harapanku terlalu tinggi. Apa perdulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam mata dan hatimu. Semua kata yang terucap seolah-olah tak pernah kau dengar dalam telingamu bahkan tak pernah kau cerna dalam otakmu. Karena aku memang tak punyai tempat dalam hati dan pikiranmu.

Kini aku telah melihatmu bahagia dengan orang lain. Aku selalu menganggap semua itu biasa-biasa saja. Aku selalu berusaha mengeringkan lukaku yang semakin har malah semakin parah. Aku tak mampu lagi memimpin air mataku agar tak jatuh sembarangan. Sulit sekali bagiku untuk melupakan orang yang telah berada pada setiap sudut-sudut terpencil dalam otakku. 

Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi untuk mengeluarkan berbagai macam kata-kata, ketika mataku tak mampu lagi membendung air mata yang kian lama kian membanyak. Seandainya kamu tahu yang sebenarnya, apakah kamu akan berubah fikiran? Tapi aku sadar… aku hanyalah tempat persinggahan yang sewaktu-waktu kamu dapat pergi kapan saja tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun. 

Pernahkah kamu membayangkan bagaiman rasanya menjadi seorang yang setiap hari merasakan luka yang teramat dalam? Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jadi aku yang harus melihatmu setiap hari bersamanya? Apa bisa kamu bayangkan rasanya jadi seseorang yang selalu menahan tangis agar terlihat baik-baik saja?
 Terimakasih sudah membacaaaaaa... :-)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...