Pages

HAPPY STUDY

Hai teman-teman, welcome to my blog. Disini kalian bisa mendownload materi-materi yang telah saya unggah. semoga dapat bermanfaat buat teman-teman semua, hugs.

Thursday, 24 October 2019

RAMAYANA BALLET


Diah Ristiana (2017015244)
 
Hari Sabtu, tanggal 23 September kami menonton pertunjukkan teater yang dubah menjadi tari (Ramayana Ballet Puraawisata) yang beralamatkan di Jl. Bridge Katamso Yogyakarta. Harga tiket yang ditawarkan standar karena masih bisa dijangkau oleh mahasiswa. Pertunjukkan Ramayana Ballet ini dimulai pukul 20.00-21.30. Pada saat pertunjukkan, pengunjung disediakan air mineral dan tempat duduk sehingga pengunjung merasa nyaman saat menonton pertunjukkan.
Ramayana Ballet ini mempertunjukkan sebuah kisah dalam bentuk tari tentang kisah usaha Rama dalam menyelamatkan Shinta yang diculik oleh Rahwana. Namun dalam pertunjukan ini dirangkum dalam empat babak, yaitu: penculikan Shinta, perjalanan Hanoman ke Alengka, kematian Kumbakarna dan Rahwana, serta pertemuan kembali Rama dan Shinta. Narasi dalam pertunjukan ini disampaikan dalam bahasa Jawa.
Sinopsis Cerita
Rama, seorang putra mahkota dari Kerajaan Ayodya bersama istri tercintanya Shinta dan adiknya yang bernama Leksmana sedang melakukan pengembaraan dengan melewati sebuah hutan yang dikenal dengan nama Hutan Dandaka. Tanpa mereka sadari, di dalam hutan tersebut terdapatlah seorang raksasa jahat bernama Rahwana yang langsung jatuh hati setelah melihat kecantikan Shinta sehingga timbul niat buruk untuk menculik Shinta dan menjadikannya istri. Rahwana mencari cara agar dapat menculik Shinta karena itu ia memerintahkan salah seorang pengikutnya yang bernama Marica untuk mengubah wujudnya menjadi seekor Kijang emas. Kecantikan kijang emas tersebut serta merta mencuri perhatian Shinta sehingga iapun meminta suaminya Rama untuk menangkapnya. Karena rasa cinta yang dalam kepada Shinta maka Rama mewujudkan permintaan istrinya tersebut dengan mengejar kijang emas tadi dan menitipkan Shinta pada Leksmana. Dalam pengejaran akhirnya kijang emas tadi berhasil dipanah oleh Rama dan kijang tersebut berubah menjadi Raksasa Kalamarica. Mengetahui kijang tersebut adalah jelmaan dari seorang raksasa maka Ramapun berkelahi dengannya dan diakhiri dengan tewasnya Kalamarica karena anak panah Rama yang menembus tubuhnya.
Tidak disangka Rama pergi sangat lama sehingga membuat Shinta cemas dan iapun meminta Leksmana untuk pergi mencari Rama. Karena khawatir akan keselamatan Shinta maka Leksmana melingkari Shinta dengan lingkaran magis sebelum pergi untuk menjaga keselamatan istri kakaknya tersebut. Mengetahui Shinta ditinggal seorang diri maka Rahwana berusaha untuk secara langsung menculik Shinta hanya saja upayanya selalu gagal karena lingkaran magis yang dibuat Leksmana selalu menghalangi Rahwana. Rahwana kemudian mencari akal lagi agar bisa mengeluarkan Shinta dari lingkaran magis tersebut sehingga nantinya ia mampu dengan mudah menculik Shinta, karena itu Rahwana mengubah dirinya sendiri menjadi sosok seorang tua yang sudah renta. Karena rasa kasihan kepada orang tua tadi maka Shintapun ingin sekali memberinya makan dan ketika itulah tanpa disadari Shinta berjalan keluar dari lingkaran magis yang membuat Rahwana dengan mudah bisa menculiknya.
Sesaat setelah kemenangan melawan Kalamarica, Ramapun melihat Leksmana sedang berlari menuju kepadanya dan setelah berhasil menemui Rama iapun meminta kakaknya itu untuk segera kembali menemui Shinta yang sudah sangat khawatir karena kepergian Rama.
Di tengah perjalanan membawa Shinta ke Kerajaan Alengka, Rahwanapun dihadang oleh seekor burung garuda sakti bernama Jatayu. Melihat Shinta yang berwajah pucat dan ketakutan maka Jatayu ingin sekali menolongnya apa lagi ia tahu bahwa Shinta adalah putri Prabu Janaka yang merupakan sahabat dari Jatayu. Dalam peperangan menyelamatkan Shinta ini Jatayu-pun kalah denga luka disekujur tubuhnya.
Ketika Rama dan Leksmana tiba ditempat semula dan menyadari bahwa Shinta tidak ada maka merekapun bingung dan mencari Shinta kesana kemari hingga mereka berdua tiba di suatu tempat dimana mereka menemukan Jatayu yang sudah mulai sekarat. Jatayu-pun menceritakan kisah yang sesungguhnya bahwa Shinta telah diculik oleh Rahwana dan tidak berselang lama setelah itu Jatayu-pun tewas dipangkuan Rama. Dalam kesedihan yang mendalam, datanglah seekor kera putih bernama Hanoman yang diutus Sugriwa untuk mencari dua ksatria yang dapat mengalahkan Subali. Sugriwa tidak dapat mengalahkan Subali karena kesaktian kakaknya itu jauh melampaui kesaktian dirinya. Sugriwa juga merasa geram karena kakaknya telah merebut kekasihnya Dewi Tara untuk dijadikan istri. Ramapun menyanggupi permintaan Hanoman untuk membantu Sugriwa mengalahkan Subali.
Subali, Dewi Tara, dan Anggada putranya sedang bercengkerama dan dikeutkan dengan tantangan Sugriwa sehingga peperanganpun tidak dapat dihindari dan berkat bantuan Rama, Sugriwa berhasil mengalahkan Subali. Karena merasa sangat terbantu oleh hadirnya Rama maka Sugriwapun ingin membalas budi dengan mengutus Hanoman untuk membantu Rama mencari Shinta yang diculik Rahwana sehingga Hanoman-pun pergi ke Kerajaan Alengka.
Di dalam kerajaan Alengka, Trijata kemenakan Rahwana sedang menghibur Shinta tiba-tiba Rahwana datang untuk membujuk Shinta agar mau dijadikan istri. Tentu saja bujuk rayu Rahwana tadi ditolak sehingga membuat Rahwana marah dan malah bermaksud untuk membunuh Shinta. Trijatapun meminta Rahwana untuk bersabar dan ia menyanggupi untuk menjaga Shinta. Di dalam kesedihannya Shinta dikejutkan dengan suara nyanyian lagu yang dinyanyikan oleh Hanoman. Setelah kehadirannya diketahui Shinta segera Hanoman menghadap untuk menyampaikan maksud kedatangannya sebagai utusan dari Rama, iapun menunjukkan cincin milik Rama sebagai bukti bahwa kedatangannya menemui Shinta adalah instruksi dari Rama. Amarah Hanomanpun memuncak sehingga ia berniat untuk membalas kejahatan Rahwana dengan merusak semua taman yang ada di Kerajaan Alengka. Ketika Hanoman sedang merusak semua taman-taman indah di Alengka, datanglah Indrajid, Putra dari Rahwana. Keduanya kemudian bertarung dan diakhiri dengan kekalahan Hanoman dan iapun dibawa menghadap Rahwana. Mengetahui semua taman-taman di kerajaannya telah rusak parah, Rahwanapun marah dan ingin membunuh Hanoman hanya saja dicegah oleh Kumbokarno. Karena tidak sepaham dengan Rahwana, Kumbokarno justru diusir dari kerajaan Alengka dan Hanomanpun akhirnya dijatuhi hukuman dengan cara dibakar hidup-hidup. Karena kesaktian yang dimilikinya, ketika tubuhnya dibakar dengan api yang bergejolak, bukannya mati tapi Hanoman justru mampu menggunakan api tadi untuk membakar Kerajaan Alengka.
Mengetahui bahwa Hanoman berhasil sampai di Kerajaan Alengka, Ramapun berniat untuk menyusulnya dengan cara membendung samudera dan membuat jembatan sebagai jalan pintas menuju ke Kerajaan Alengka. Pada waktu yang bersamaan maka diutuslah Anggodo, Anila, dan Jembawana untuk memimpin prajurit kera dan menyerang Alengka.
Ketika bala tentara Alengka sedang berjaga-jaga, datanglah pasukan kera dan terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Kumbokarno yang bertindak sebagai senopatipun tewas ketika berhadapan dengan Rama, tidak terkecuali Indrjid yang juga tewas setelah terhunus panah sakti Rama. Maka tinggal-lah musuh terakhir yang akan dihadapi Rama yaitu Rahwana. Keduanya pun larut dalam pertempuran sengit dan diakhiri dengan tewasnya Rahwana karena terkena panah sakti Rama, tidak cukup sampai disitu tubuh Rahwanapun dihimpit oleh Gunung Sumawan yang dibawa oleh hanoman agar jasadnya tidak mudah ditemukan.
Setelah Rahwana tewas, Shintapun ingin sekali segera menemui suaminya hanya saja Rama menolak karena menganggap Shinta sudah tidak lagi suci selama menjadi tawanan Rahwana. Untuk membuktikan kesuciannya itu, Shintapun menawarkan untuk membakar dirinya di dalam bara api dan jika ia bisa selamat maka itu menandakan bahwa Shinta masih suci. Ramapun menyetujui permintaan istrinya itu dan Shinta bergegas memasukkan tubuhnya ke dalam bara api yang menyala hebat. Karena kesucian tubuhnya dan dibantu oleh dewa api, Shinta berhasil selamat tanpa ada sedikit apipun yang membakar tubuhnya dan melalui tantangan ini Shinta berhasil membuktikan kesucian dirinya kepada Rama. Rama dan Shintapun kembali bersatu dan hidup dengan penuh bahagia.



DOKUMENTASI






Friday, 15 December 2017

UPACARA DAUR HIDUP MASYARAKAT JAWA (YOGYAKARTA)

UPACARA DAUR HIDUP
MASYARAKAT JAWA (YOGYAKARTA)

Disusun untuk memenuhi Mata Kuliah Sosiantropologi Pendidikan
Dosen pengampu : Dra. Hj. Trisharsiwi, M.Pd.

Disusun oleh :
1.        Astina Pratiwi                  ( 2017015262 )
2.        Diah Ristiana                   ( 2017015244 )
3.        Kunti Wulandar               ( 2017015246 )
4.        Diah Ayu Citra Agustina ( 2017015247 )


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2017
UPACARA DAUR HIDUP MASYARAKAT JAWA (YOGYAKARTA)

A.           Upacara Daur Hidup dalam Fase Kehamilan - Persalinan

Upacara daur hidup sendiri, dilaksanakan sejak ada tanda-tanda kehamilan sampai manusia meninggal dunia dengan jangka waktu tertentu. Di dalam masa kehamilan sendiri ada berbagai jenis upacara tradisi yang harus dilakukan, yaitu mulai dari upacara Ngabor-abori. Upacara ini adalah sebuah peringatan atau Selamatan bulan pertama yang biasanya dilakukan dengan wujud membuat jenang sungsum.
Setelah itu berturut-turut di bulan berikutnya masih terdapat upacara tradisi lain seperti Ngloroni (dua bulanan), Neloni (tiga bulanan), Ngapati (empat bulanan), Nglimani (lima bulanan), Mitoni (tujuh bulanan), Ngwoloni (delapan bulanan), dan Nyangani (sembilan bulanan), dimana masing-masing upacara membutuhkan persiapan dan ubarampe (kelengkapan upacara) yang berbeda-beda.
Selanjutnya adalah masa persalinan.
Upacara tradisi untuk menyongsong masa kelahiran bayi ini juga diselenggarakan ke dalam beberapa tahapan.
1.        Mulai dari Mendhem ari-ari, yaitu proses perawatan dan penguburan ari-ari bayi. Ari-ari secara medis merupakan sebuah organ yang berfungsi untuk menyalurkan berbagai nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin di dalam rahim. Lewat ari-ari juga zat-zat antibodi, berbagai hormon dan gizi disalurkan sehingga janin bisa tumbuh dan berkembang menjadi bayi. Bagi orang jawa ari-ari memiliki “jasa” yang cukup besar sebagai batir bayi (teman bayi) sejak dalam kandungan. Oleh karena itu sejak fungsi utama ari-ari berakhir ketika bayi lahir, organ ini akan tetap dirawat dan dikubur sedemikian rupa agar tidak dimakan binatang ataupun membusuk di tempat sampah. Upacara mendhem ari-ari ini biasanya dilakukan oleh sang ayah, berada di dekat pintu utama rumah, diberi pagar bambu dan penerangan berupa lampu minyak selama 35 hari (selapan).

2.        Brokohan, yaitu selamatan yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus pemberitahuan kepada sanak keluarga dan para tetangga bahwa bayi telah lahir dan selamat. Brokohan merupakan salah satu upacara tradisi jawa untuk menyambut kelahiran bayi yang dilaksanakan sehari setelah bayi lahir. Kata Brokohan sendiri berasal dari kata barokah-an, yang artinya memohon berkah dan keselamatan atas kelahiran bayi. Dalam acara ini biasanya para tetangga dekat dan sanak saudara berdatangan berkumpul sebagai tanda turut bahagia atas kelahiran bayi yang dapat berjalan dengan lancar. Tak sedikit para tetangga yang membawa bermacam oleh-oleh berupa perlengkapan bayi dan makanan untuk keluarga yang melahirkan.
3.        Sepasaran, yaitu upacara untuk memperingati bahwa bayi yang lahir telah berusia 5 hari (sepasar). Sepasaran menjadi salah satu upacara adat jawa yang dilakukan setelah lima hari sejak kelahiran bayi. Dalam acara ini pihak keluarga mengundang tetangga sekitar beserta keluarga besar untuk ikut mendoakan atas bayi yang telah dilahirkan. Acara sepasaran secara sederhana biasanya dilakukan dengan kenduri, bagi yang memiliki rejeki yang lebih biasanya dilaksanakan seperti orang punya hajat (mantu). Adapun inti dari acara sepasaran ini adalah upacara selamatan sekaligus mengumumkan nama bayi yang telah lahir.
4.        Puputan, yaitu selamatan saat tali pusar bayi sudah putus (usia antara 10 hari sampai dua minggu). Upacara puputan dilakukan ketika tali pusar yang menempel pada perut bayi sudah putus. Pelaksanaan upacara ini biasanya berupa kenduri memohon pada Tuhan YME agar si anak yang telah puput puser selalu diberkahi, diberi keselamatan dan kesehatan. Orang tua jaman dulu melaksanakan upacara puputan dengan menyediakan berbagi macam sesaji, namun masyarakat jawa modern biasanya acara puputan dibuat bersamaan dengan upacara sepasaran ataupun selapanan, hal ini tergantung kapan tali pusar putus dari pusar bayi.
5.        Aqiqah, Akulturasi budaya Jawa-Islam sangat terlihat dalam upacara Aqiqah. Upacara yang dilakukan setelah tujuh hari kelahiran bayi ini biasanya dilaksanakan dengan penyembelihan hewan kurban berupa domba/kambing. Jika anak yang dilahirkan laki-laki biasanya menyembelih dua ekor kambing, dan bila anak yag dilahirkan adalah perempuan maka akan menyembelih satu ekor kambing.
6.        Selapanan, yaitu selamatan saat usia bayi 35 hari. Upacara selapanan ini dilangsungkan dengan rangkaian acara bancakan weton (kenduri hari kelahiran), pemotongan rambut bayi hinngga gundul dan pemotongan kuku bayi. Pemotongan rambut dan kuku ini bertujuan untuk menjaga kesehatan bayi agar kulit kepala dan jari bayi tetap bersih. Sedangkan bancakan selapanan dimaksudkan sebagai rasa syukur atas kelahiran bayi, sekaligus sebah doa agar kedepannya si jabang bayi selalu diberi kesehatan, cepat besar, dan berbagai doa kebaikan lainnya.

B.            Upacara Daur Hidup dalam Fase Pertumbuhan - Perkawinan

Setelah itu apabila sang anak sudah mulai mengalami pertumbuhan menjadi dewasa, upacara tradisi juga masih dilakukan.
1.        SAAT KECIL/BAYI
Dimulai dari
1)        Tedhak Siten, yaitu upacara selamatan pada saat anak pertama kali menginjakkan kakinya ke tanah (usia sekitar 7-9 bulan).
2)        Nyapih, selamatan saat sang Ibu berhenti menyusui anaknya diganti dengan disapih.
3)        Neton, selamatan yang diadakan bertepatan dengan hari dan pasaran anak tersebut.
4)        Gaulan, selamatan yang dilakukan saat sang anak tumbuh gigi untuk pertama kali
5)        Nyetahuni, selamatan saat sang anak berusia tepat 1 tahun.
6)        Supitan, yaitu upacara khitanan untuk anak laki-laki.
7)        Tetesan, upacara serupa untuk anak perempuan, sebagai penanda peralihan masa kanak-kanak menuju masa remaja.
8)        Tarapan, upacara untuk anak perempuan yang menstruasi untuk pertama kali. Semua upacara ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan bagi sang anak dalam mengarungi berbagai dinamika hidup nantinya. Terutama saat mengalami tumbuh kembang di dalam kehidupan.
Setelah sang anak tumbuh dewasa dan menemukan jodohnya, mereka akan menjalani perkawinan. Upacara tradisi perkawinan Jawa menjadi salah satu upacara tradisi yang hingga kini masih banyak dilestarikan oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Dapat dikatakan bahwa masa perkawinan adalah masa terpenting dalam siklus hidup seseorang karena fase ini adalah pilihannya sendiri yang lahir melalui proses pendewasaan dan kematangan, sedangkan proses kelahiran dan kematian adalah suatu hal yang sudah bisa dipastikan tanpa kehendak manusia. mengenal tiga tahapan besar.
2.      Tahap pra-nikah, tahap pernikahan, dan tahap paska-nikah.
a)      TAHAP PRA NIKAH
1.         Nontoni
Nontoni adalah tahap awal dalam proses menuju pernikahan. Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dinikahinya. Jaman dulu, atau beberapa puluh tahun yang lalu, orang yang akan menikah belum tentu tahu dan kenal dengan orang yang akan dinikahinya. Prosesi ini bertujuan agar calon pengantin ada gambaran siapa dan seperti apa jodohnya nanti. Biasanya prosesi ini diprakarsai pihak pria. Sebelum acara nontoni, orangtua pihak laki-laki sudah menyelidiki tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan ini dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia. Jika hasil nontoni memuaskan, dan si perjaka menerima pilihan orangtuanya, maka selanjutnya diadakan musyawarah diantara orangtua/ pinisepuh si perjaka untuk menentukan tata cara lamaran.
2.         Lamaran
Setelah acara Nontoni dan calon dan si perjaka menerima pilihan orangtuanya, selanjutnya dilanjutkan acara lamaran. Melamar berarti meminang, karena pada zaman dulu diantara calon pengantin pria dan wanita kadang masih belum saling mengenal. Oleh karena itu, orang tualah yang mencarikan jodoh dan menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon suami. Dari sini kemudian bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama. Pada hari yang telah ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan dari pihak calon pengantin pria dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu biasa disebut Jodang (tempat makanan dan lain sebagainya) yang dipikul oleh empat orang pria. Makanan tersebut biasanya terbuat dari beras ketan antara lain : Jadah, Wajik, Rengginang dan sebagainya. Mengapa terbuat dari bahan ketan, hal ini karena sifat dari bahan baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua pengantin dan antar besan tetap lengket, kalau dalah bahasa Jawa “Pliket”. Setelah lamaran diterima, kedua belah pihak kemudian merundingkan hari baik untuk melaksanakan upacara peningsetan. Sebagiab besar masyarakat Jawa masih melestarikan system pemilihan hari pasaran pancawara dalam menentukan hari baik untuk upacara peningsetan dan hari ijab pernikahan.
3.         Jawaban
Jika lamaran diterima, maka pihak orangtua calon mempelai wanita mengirimkan utusan untuk memberikan jawaban atas lamaran dari pihak calon mempelai pria. Setelah ada kesepakatan waktu dari kedua belah pihak, utusan tersebut datang dan memberikan jawaban bahwa lamaran si pria diterima. Utusan tersebut membawa oleh-oleh sebagai balasan untuk mempererat persaudaraan. Setelah lamaran diterima, kedua belah pihak sama-sama merundingkan hari, tanggal dan waktu dilaksanakan peningsetan.
4.           Peningsetan
Peningsetan berasal dari kata dasar singset (Jawa) yang berarti ikat, jadi peningsetan berarti pengikat. Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari orangtua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin puteri. Menurut tradisi peningset terdiri dari Kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan emas, uang yang biasa disebut tukon, ini disesuaikan dengan kemampuan ekonominya. Jodang yang berisi Jadah, wajik, rengginang, gula, the, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gading Nala Ganjur. Kemudian penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah acara peningsetan.
5.      Pasangtarub / Tuwuhan
Pasang tarub di pintu gerbang kediaman calon mempelai mengawali serangkaian upacara pernikahan Adat Jawa Yogyakarta. Hal tersebut merupakan penanda sekaligus berita, bahwa sang empunya rumah akan mengadakan hajatan mantu. Tarub sendiri merupakan rumah-rumahan yang beratapkan daun kelapa. Sedangkan bleketepe adalah anyaman yang juga terbuat dari daun kelapa. Dilihat dari sejarah, tradisi tersebut dilakukan pertama kali oleh salah satu leluhur raja-raja Mataram, yakni Ki Ageng Tarub. Saat itu, sang raja menikahkan putrinya Dewi Nawangsih dengan Bondan Kejawan.
Sementara tuwuhan yang tumbuh merupakan harapan orang tua agar anak yang akan dinikahkan memperoleh keturunan yang baik, cukup sandang dan pangan. Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan dipasang di sebelah kanan dan kiri pintu. Terdiri dari, dua batang pohon pisang raja yang buahnyatua/matang, dua jangjang gading (cengkir gading Jawa), dua untai padi yang sudah tua, dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus, daun beringin secukupnya dan daun dadap srep.
6.      Nyantri
Upacara nyantri adalah menitipkan calon pengantin pria kepada keluarga pengantin putri 1 sampai 2 hari sebelum pernikahan. Calon pengantin pria ini akan ditempat kan dirumsh saudara atau tetangga dekat. Upacara nyantri ini dimaksudkan untuk melancarkan jalannya upacara pernikahan, sehingga saat-saat upacara pernikahan dilangsungkan maka calon pengantin pria sudah siap dit3empat sehingga tidak merepotkan pihak keluarga pengantin putri.

7.      Siraman
Siraman dari kata dasar siram (Jawa) yang berarti mandi. Yang dimaksud dengan siraman adalah memandikan calon pengantin yang mengandung arti membershkan diri agar menjadi suci dan murni. Bahan-bahan untuk upacara siraman :
·           Kembang setaman secukupnya
·           Lima macam konyoh panca warna (penggosok badan yang terbuat dari beras kencur yang dikasih pewarna)
·           Dua butir kelapa hijau yang tua yang masih ada sabutnya.
·           Kendi atai klenting
·           Tikar ukuran ½ meter persegi
·           Mori putih ½ meter persegi
·           Daun-daun : kluwih, koro, awar-awar, turi, dadap srep, alang-alang
·           Dlingo bengle
·           Lima macam bangun tulak (kain putih yang ditepinnya diwarnai biru)
·           Satu macam yuyu sekandang (kain lurik tenun berwarna coklat ada garis-garis benang kuning)
·           Satu macam pulo watu (kain lurik berwarna putih lorek hitam), 1 helai letrek (kain kuning), 1 helai jinggo (kain merah).
·           Sampo dari londo merang (air dari merang yang dibakar didalam jembangan dari tanah liat kemudian saat merangnya habis terbakar segera apinya disiram air, air ini dinamakan air londo)
·           Asem, santan kanil, 2meter persegi mori, 1 helai kain nogosari, 1 helai kain grompol, 1 helai kain semen, 1 helai kain sidomukti atau kain sidoasih
·           Sabun dan handuk. Saat akan melaksanakan siraman ada petuah- petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:
-     Tumpeng robyong
-     Tumpeng gundul
-     Nasi asrep-asrepan
-     Jajan pasar, pisang raja 1 sisir, pisang pulut 1 sisir, 7 macam jenang
-     Empluk kecil (wadah dari tanah liat) yang diisi bumbu dapur dan sedikit beras
-     1 butir telor ayam mentah
-     Juplak diisi minyak kelapa
-     1 butir kelapa hijau tanpa sabut
-     Gula jawa 1 tangkep
-     1 ekor ayam jantan
Untuk menjaga kesehatan calon pengantin supaya tidak kedinginan maka ditetapkan tujuh orang yang memandikan, tujuh sama dengan pitu (Jawa) yang berarti pitulung (Jawa) yang berarti pertolongan. Upacara siraman ini diakhiri oleh juru rias (pemaes) dengan memecah kendi dari tanah liat.
8.         Adol dawet
Prosesi adol dawet dilaksanakan setelah siraman. Proses ini dilakukan oleh kedua orang tua calon pengantin wanita. Ibu calon pengantin sebagai penjual, sedangkan bapak nya yang memegang payung untuk memayungi ibu.
Pembeli pada prosesi ini adalah para tamu yang menggunakan uang pecahan berupa genteng atau kreweng. Upacara ini memiliki harapan agar, nantinya pada saat upacara panggih atau resepsi, banyak tamu dan rezeki yang datang.
9.         Upacara Langkahan
Langkahan berasal dari kata dasar langkah (Jawa) yang berarti lompat, upacara langkahan disini dimaksudkan apabila pengantin menikah mendahului kakaknya yang belum nikah , maka sebelum akad nikah dimulai maka calon pengantin diwajibkan minta izin kepada kakak yang dilangkahi.



10.     Midodareni
Midodareni berasal dari kata dasar widodari (Jawa) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00 sampai dengan jam 24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon penganten tidak boleh tidur. Saat akan melaksanakan midodaren ada petuah- petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:
·           Sepasang kembarmayang (dipasang di kamar pengantin)
·           Sepasang klemuk (periuk) yang diisi dengan bumbu pawon, biji-bijian, empon-empon dan dua helai bangun tulak untuk menutup klemuk tadi
·           Sepasang kendi yang diisi air suci yang cucuknya ditutup dengan daun dadap srep (tulang daun / tangkai daun), Mayang jambe (buah pinang), daun sirih yang dihias dengan kapur.
·           Baki yang berisi potongan daun pandan, parutan kencur, laos, jeruk purut, minyak wangi, baki ini ditaruh dibawah tepat tidur supaya ruangan berbau wangi.
Adapun dengan selesainya midodareni saat jam 24.00 calon pengantin dan keluarganya bias makan hidangan yang terdiri dari :
-          Nasi gurih
-          Sepasang ayam yang dimasak lembaran (ingkung, Jawa)
-          Sambel pecel, sambel pencok, lalapan
-          Krecek
-          Roti tawar, gula jawa
-          Kopi pahit dan teh pahit
-          Rujak degan
-          Dengan lampu juplak minyak kelapa untuk penerangan (jaman dulu)




b)     TAHAP PERNIKAHAN
1)        Ijab Qobul
Ijab atau ijab kabul adalah pengesahan pernihakan sesuai agama pasangan pengantin. Secara tradisi dalam upacara ini keluarga pengantin perempuan menyerahkan / menikahkan anaknya kepada pengantin pria, dan keluarga pengantin pria menerima pengantin wanita dan disertai dengan penyerahan emas kawin bagi pengantin perempuan. Upacara ijab qobul biasanya dipimpin oleh petugas dari kantor urusan agama sehingga syarat dan rukunnya ijab qobul akan syah menurut syariat agama dan disaksikan oleh pejabat pemerintah atau petugas catatan sipil yang akan mencatat pernikahan mereka di catatan pemerintah
2)        Panggih
Panggih (Jawa) berarti bertemu, setelah upacara akad nikah selesai baru upacara panggih bias dilaksanaakan,. Pengantin pria kembali ketempat penantiannya, sedang pengantin putri kembali ke kamar pengantin. Setelah semuanya siap maka upacara panggih dapat segera dimulai.
Untuk melengkapi upacara panggih tersebut sesuai dengan busana gaya Yogyakarta dengan iringan gending Jawa :
§  Gending Bindri untuk mengiringi kedatangan penantin pria
§  Gending Ladrang Pengantin untuk mengiringi upacara panggih mulai dari balangan (saling melempar) sirih, wijik (pengantin putri mencuci kaki pengantin pria), pecah telor oleh pemaes.
§  Gending Boyong/Gending Puspowarno untuk mengiringi tampa kaya (kacar-kucur), lambing penyerahan nafkah dahar walimah. Setelah dahar walimah selesai, gending itu bunyinya dilemahkan untuk mengiringi datangnya sang besan dan dilanjutkan upacara sungkeman.
Setelah upacara panggih selesai dapat diiringi dengan gending Sriwidodo atau gending Sriwilujeng. Pada waktu kirab diiringi gending : Gatibrongta, atau Gari padasih.
c)      TAHAP PASCANIKAH
1.      Upacara nggunduh mantu pengantin adat Jawa atau boyongan
Ngunduh mantu terdiri dari dua kata, Ngunduh yang artinya panen atau memanen dan mantu artinya menantu. Bila digabungkan, bukan berarti panen menantu, tetapi arti sebenarnya adalah mendapatkan seorang menantu. Yaitu ketika orangtua menikahkan anak laki lakinya, kemuadian si istri dibawa untuk tinggal bersamasuami dan kedua orang tuanya, maka keluarga tersebut mendapatkan anggota tambahan. Upacara nggunduh mantu biasanya dilaksanakan setelah menyelenggarakan upacara pernikahan di rumah mempelai wanita. Upacara nggunduh mantu dilakukan oleh orangtua mempelai pria dirumahnya dengan mendatangkan kedua pengantin dan keluarga mempelai wanita, acara ini dilangsungkan setelah lima hari sejak digelarnya upacara perkawinan atau orang jawa biasa menyebutnya sepasar (lima hari). Upacara ngunduh mantu dilakukan untuk mngenalkan mempelai wanita kepada keluarga besar dari pihak mempelai pria, sebagai bentuk woro-woro atau pengumuman kepada tetangga bahwa mempelai pria tersebut sudah beristri. Selain itu, upacara ngunduh mantu juga bertujuan untuk mengisyaratkan bahwa pria harus menjadi pelindung, pengayom bagi istri dan anak-anaknya kelak. Dan juga sebagai ungkapan syukur bagi keluarga pengantin pria.

C.            Upacara Daur Hidup dalam Fase Kematian

Fase terakhir adalah kematian, yaitu proses meninggalnya manusia setelah melalui banyak tahapan dalam kehidupan dan mengalami tugas-tugas perkembangan sedari lahir, masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa, hingga tua. Dalam hal ini, upacara tradisi Jawa untuk memperingati kematian dapat diurutkan ke dalam berbagai prosesi.

1.        Lelayu (memberitakan kematian),
2.        Ngrukti Laya (mengurus jenazah dari memandikan, memberangkatkan jenazah, kegiatan sepanjang menuju makam, sampai doa di pemakaman), termasuk urusan administrasi yang berkaitan dengan kematian.
Lalu ada juga upacara ritual kematian yang meliputi :
1)        Selametan Surtanah atau Bedhah Bumi (upacara mempersiapkan liang kubur)
2)        Telung dina (selamatan hari ketiga setelah kematian)
3)        Pitung dina (selamatan hari ketujuh setelah kematian)
4)        Patang puluh dina (selamatan hari keempat puluh setelah kematian)
5)        Satus dina (selamatan seratus harian setelah kematian)
6)        Pendhak pisan (selamatan satu tahun sejak kematian)
7)        Pendhak pindho (selamatan dua tahun sejak kematian)
8)        Sewu dina (selamatan seribu hari setelah kematian).


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...