Pages

Friday, 15 December 2017

UPACARA DAUR HIDUP MASYARAKAT JAWA (YOGYAKARTA)

UPACARA DAUR HIDUP
MASYARAKAT JAWA (YOGYAKARTA)

Disusun untuk memenuhi Mata Kuliah Sosiantropologi Pendidikan
Dosen pengampu : Dra. Hj. Trisharsiwi, M.Pd.

Disusun oleh :
1.        Astina Pratiwi                  ( 2017015262 )
2.        Diah Ristiana                   ( 2017015244 )
3.        Kunti Wulandar               ( 2017015246 )
4.        Diah Ayu Citra Agustina ( 2017015247 )


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2017
UPACARA DAUR HIDUP MASYARAKAT JAWA (YOGYAKARTA)

A.           Upacara Daur Hidup dalam Fase Kehamilan - Persalinan

Upacara daur hidup sendiri, dilaksanakan sejak ada tanda-tanda kehamilan sampai manusia meninggal dunia dengan jangka waktu tertentu. Di dalam masa kehamilan sendiri ada berbagai jenis upacara tradisi yang harus dilakukan, yaitu mulai dari upacara Ngabor-abori. Upacara ini adalah sebuah peringatan atau Selamatan bulan pertama yang biasanya dilakukan dengan wujud membuat jenang sungsum.
Setelah itu berturut-turut di bulan berikutnya masih terdapat upacara tradisi lain seperti Ngloroni (dua bulanan), Neloni (tiga bulanan), Ngapati (empat bulanan), Nglimani (lima bulanan), Mitoni (tujuh bulanan), Ngwoloni (delapan bulanan), dan Nyangani (sembilan bulanan), dimana masing-masing upacara membutuhkan persiapan dan ubarampe (kelengkapan upacara) yang berbeda-beda.
Selanjutnya adalah masa persalinan.
Upacara tradisi untuk menyongsong masa kelahiran bayi ini juga diselenggarakan ke dalam beberapa tahapan.
1.        Mulai dari Mendhem ari-ari, yaitu proses perawatan dan penguburan ari-ari bayi. Ari-ari secara medis merupakan sebuah organ yang berfungsi untuk menyalurkan berbagai nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin di dalam rahim. Lewat ari-ari juga zat-zat antibodi, berbagai hormon dan gizi disalurkan sehingga janin bisa tumbuh dan berkembang menjadi bayi. Bagi orang jawa ari-ari memiliki “jasa” yang cukup besar sebagai batir bayi (teman bayi) sejak dalam kandungan. Oleh karena itu sejak fungsi utama ari-ari berakhir ketika bayi lahir, organ ini akan tetap dirawat dan dikubur sedemikian rupa agar tidak dimakan binatang ataupun membusuk di tempat sampah. Upacara mendhem ari-ari ini biasanya dilakukan oleh sang ayah, berada di dekat pintu utama rumah, diberi pagar bambu dan penerangan berupa lampu minyak selama 35 hari (selapan).

2.        Brokohan, yaitu selamatan yang dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus pemberitahuan kepada sanak keluarga dan para tetangga bahwa bayi telah lahir dan selamat. Brokohan merupakan salah satu upacara tradisi jawa untuk menyambut kelahiran bayi yang dilaksanakan sehari setelah bayi lahir. Kata Brokohan sendiri berasal dari kata barokah-an, yang artinya memohon berkah dan keselamatan atas kelahiran bayi. Dalam acara ini biasanya para tetangga dekat dan sanak saudara berdatangan berkumpul sebagai tanda turut bahagia atas kelahiran bayi yang dapat berjalan dengan lancar. Tak sedikit para tetangga yang membawa bermacam oleh-oleh berupa perlengkapan bayi dan makanan untuk keluarga yang melahirkan.
3.        Sepasaran, yaitu upacara untuk memperingati bahwa bayi yang lahir telah berusia 5 hari (sepasar). Sepasaran menjadi salah satu upacara adat jawa yang dilakukan setelah lima hari sejak kelahiran bayi. Dalam acara ini pihak keluarga mengundang tetangga sekitar beserta keluarga besar untuk ikut mendoakan atas bayi yang telah dilahirkan. Acara sepasaran secara sederhana biasanya dilakukan dengan kenduri, bagi yang memiliki rejeki yang lebih biasanya dilaksanakan seperti orang punya hajat (mantu). Adapun inti dari acara sepasaran ini adalah upacara selamatan sekaligus mengumumkan nama bayi yang telah lahir.
4.        Puputan, yaitu selamatan saat tali pusar bayi sudah putus (usia antara 10 hari sampai dua minggu). Upacara puputan dilakukan ketika tali pusar yang menempel pada perut bayi sudah putus. Pelaksanaan upacara ini biasanya berupa kenduri memohon pada Tuhan YME agar si anak yang telah puput puser selalu diberkahi, diberi keselamatan dan kesehatan. Orang tua jaman dulu melaksanakan upacara puputan dengan menyediakan berbagi macam sesaji, namun masyarakat jawa modern biasanya acara puputan dibuat bersamaan dengan upacara sepasaran ataupun selapanan, hal ini tergantung kapan tali pusar putus dari pusar bayi.
5.        Aqiqah, Akulturasi budaya Jawa-Islam sangat terlihat dalam upacara Aqiqah. Upacara yang dilakukan setelah tujuh hari kelahiran bayi ini biasanya dilaksanakan dengan penyembelihan hewan kurban berupa domba/kambing. Jika anak yang dilahirkan laki-laki biasanya menyembelih dua ekor kambing, dan bila anak yag dilahirkan adalah perempuan maka akan menyembelih satu ekor kambing.
6.        Selapanan, yaitu selamatan saat usia bayi 35 hari. Upacara selapanan ini dilangsungkan dengan rangkaian acara bancakan weton (kenduri hari kelahiran), pemotongan rambut bayi hinngga gundul dan pemotongan kuku bayi. Pemotongan rambut dan kuku ini bertujuan untuk menjaga kesehatan bayi agar kulit kepala dan jari bayi tetap bersih. Sedangkan bancakan selapanan dimaksudkan sebagai rasa syukur atas kelahiran bayi, sekaligus sebah doa agar kedepannya si jabang bayi selalu diberi kesehatan, cepat besar, dan berbagai doa kebaikan lainnya.

B.            Upacara Daur Hidup dalam Fase Pertumbuhan - Perkawinan

Setelah itu apabila sang anak sudah mulai mengalami pertumbuhan menjadi dewasa, upacara tradisi juga masih dilakukan.
1.        SAAT KECIL/BAYI
Dimulai dari
1)        Tedhak Siten, yaitu upacara selamatan pada saat anak pertama kali menginjakkan kakinya ke tanah (usia sekitar 7-9 bulan).
2)        Nyapih, selamatan saat sang Ibu berhenti menyusui anaknya diganti dengan disapih.
3)        Neton, selamatan yang diadakan bertepatan dengan hari dan pasaran anak tersebut.
4)        Gaulan, selamatan yang dilakukan saat sang anak tumbuh gigi untuk pertama kali
5)        Nyetahuni, selamatan saat sang anak berusia tepat 1 tahun.
6)        Supitan, yaitu upacara khitanan untuk anak laki-laki.
7)        Tetesan, upacara serupa untuk anak perempuan, sebagai penanda peralihan masa kanak-kanak menuju masa remaja.
8)        Tarapan, upacara untuk anak perempuan yang menstruasi untuk pertama kali. Semua upacara ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan bagi sang anak dalam mengarungi berbagai dinamika hidup nantinya. Terutama saat mengalami tumbuh kembang di dalam kehidupan.
Setelah sang anak tumbuh dewasa dan menemukan jodohnya, mereka akan menjalani perkawinan. Upacara tradisi perkawinan Jawa menjadi salah satu upacara tradisi yang hingga kini masih banyak dilestarikan oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Dapat dikatakan bahwa masa perkawinan adalah masa terpenting dalam siklus hidup seseorang karena fase ini adalah pilihannya sendiri yang lahir melalui proses pendewasaan dan kematangan, sedangkan proses kelahiran dan kematian adalah suatu hal yang sudah bisa dipastikan tanpa kehendak manusia. mengenal tiga tahapan besar.
2.      Tahap pra-nikah, tahap pernikahan, dan tahap paska-nikah.
a)      TAHAP PRA NIKAH
1.         Nontoni
Nontoni adalah tahap awal dalam proses menuju pernikahan. Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dinikahinya. Jaman dulu, atau beberapa puluh tahun yang lalu, orang yang akan menikah belum tentu tahu dan kenal dengan orang yang akan dinikahinya. Prosesi ini bertujuan agar calon pengantin ada gambaran siapa dan seperti apa jodohnya nanti. Biasanya prosesi ini diprakarsai pihak pria. Sebelum acara nontoni, orangtua pihak laki-laki sudah menyelidiki tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan ini dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia. Jika hasil nontoni memuaskan, dan si perjaka menerima pilihan orangtuanya, maka selanjutnya diadakan musyawarah diantara orangtua/ pinisepuh si perjaka untuk menentukan tata cara lamaran.
2.         Lamaran
Setelah acara Nontoni dan calon dan si perjaka menerima pilihan orangtuanya, selanjutnya dilanjutkan acara lamaran. Melamar berarti meminang, karena pada zaman dulu diantara calon pengantin pria dan wanita kadang masih belum saling mengenal. Oleh karena itu, orang tualah yang mencarikan jodoh dan menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon suami. Dari sini kemudian bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama. Pada hari yang telah ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan dari pihak calon pengantin pria dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu biasa disebut Jodang (tempat makanan dan lain sebagainya) yang dipikul oleh empat orang pria. Makanan tersebut biasanya terbuat dari beras ketan antara lain : Jadah, Wajik, Rengginang dan sebagainya. Mengapa terbuat dari bahan ketan, hal ini karena sifat dari bahan baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua pengantin dan antar besan tetap lengket, kalau dalah bahasa Jawa “Pliket”. Setelah lamaran diterima, kedua belah pihak kemudian merundingkan hari baik untuk melaksanakan upacara peningsetan. Sebagiab besar masyarakat Jawa masih melestarikan system pemilihan hari pasaran pancawara dalam menentukan hari baik untuk upacara peningsetan dan hari ijab pernikahan.
3.         Jawaban
Jika lamaran diterima, maka pihak orangtua calon mempelai wanita mengirimkan utusan untuk memberikan jawaban atas lamaran dari pihak calon mempelai pria. Setelah ada kesepakatan waktu dari kedua belah pihak, utusan tersebut datang dan memberikan jawaban bahwa lamaran si pria diterima. Utusan tersebut membawa oleh-oleh sebagai balasan untuk mempererat persaudaraan. Setelah lamaran diterima, kedua belah pihak sama-sama merundingkan hari, tanggal dan waktu dilaksanakan peningsetan.
4.           Peningsetan
Peningsetan berasal dari kata dasar singset (Jawa) yang berarti ikat, jadi peningsetan berarti pengikat. Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari orangtua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin puteri. Menurut tradisi peningset terdiri dari Kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan emas, uang yang biasa disebut tukon, ini disesuaikan dengan kemampuan ekonominya. Jodang yang berisi Jadah, wajik, rengginang, gula, the, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gading Nala Ganjur. Kemudian penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah acara peningsetan.
5.      Pasangtarub / Tuwuhan
Pasang tarub di pintu gerbang kediaman calon mempelai mengawali serangkaian upacara pernikahan Adat Jawa Yogyakarta. Hal tersebut merupakan penanda sekaligus berita, bahwa sang empunya rumah akan mengadakan hajatan mantu. Tarub sendiri merupakan rumah-rumahan yang beratapkan daun kelapa. Sedangkan bleketepe adalah anyaman yang juga terbuat dari daun kelapa. Dilihat dari sejarah, tradisi tersebut dilakukan pertama kali oleh salah satu leluhur raja-raja Mataram, yakni Ki Ageng Tarub. Saat itu, sang raja menikahkan putrinya Dewi Nawangsih dengan Bondan Kejawan.
Sementara tuwuhan yang tumbuh merupakan harapan orang tua agar anak yang akan dinikahkan memperoleh keturunan yang baik, cukup sandang dan pangan. Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan dipasang di sebelah kanan dan kiri pintu. Terdiri dari, dua batang pohon pisang raja yang buahnyatua/matang, dua jangjang gading (cengkir gading Jawa), dua untai padi yang sudah tua, dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus, daun beringin secukupnya dan daun dadap srep.
6.      Nyantri
Upacara nyantri adalah menitipkan calon pengantin pria kepada keluarga pengantin putri 1 sampai 2 hari sebelum pernikahan. Calon pengantin pria ini akan ditempat kan dirumsh saudara atau tetangga dekat. Upacara nyantri ini dimaksudkan untuk melancarkan jalannya upacara pernikahan, sehingga saat-saat upacara pernikahan dilangsungkan maka calon pengantin pria sudah siap dit3empat sehingga tidak merepotkan pihak keluarga pengantin putri.

7.      Siraman
Siraman dari kata dasar siram (Jawa) yang berarti mandi. Yang dimaksud dengan siraman adalah memandikan calon pengantin yang mengandung arti membershkan diri agar menjadi suci dan murni. Bahan-bahan untuk upacara siraman :
·           Kembang setaman secukupnya
·           Lima macam konyoh panca warna (penggosok badan yang terbuat dari beras kencur yang dikasih pewarna)
·           Dua butir kelapa hijau yang tua yang masih ada sabutnya.
·           Kendi atai klenting
·           Tikar ukuran ½ meter persegi
·           Mori putih ½ meter persegi
·           Daun-daun : kluwih, koro, awar-awar, turi, dadap srep, alang-alang
·           Dlingo bengle
·           Lima macam bangun tulak (kain putih yang ditepinnya diwarnai biru)
·           Satu macam yuyu sekandang (kain lurik tenun berwarna coklat ada garis-garis benang kuning)
·           Satu macam pulo watu (kain lurik berwarna putih lorek hitam), 1 helai letrek (kain kuning), 1 helai jinggo (kain merah).
·           Sampo dari londo merang (air dari merang yang dibakar didalam jembangan dari tanah liat kemudian saat merangnya habis terbakar segera apinya disiram air, air ini dinamakan air londo)
·           Asem, santan kanil, 2meter persegi mori, 1 helai kain nogosari, 1 helai kain grompol, 1 helai kain semen, 1 helai kain sidomukti atau kain sidoasih
·           Sabun dan handuk. Saat akan melaksanakan siraman ada petuah- petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:
-     Tumpeng robyong
-     Tumpeng gundul
-     Nasi asrep-asrepan
-     Jajan pasar, pisang raja 1 sisir, pisang pulut 1 sisir, 7 macam jenang
-     Empluk kecil (wadah dari tanah liat) yang diisi bumbu dapur dan sedikit beras
-     1 butir telor ayam mentah
-     Juplak diisi minyak kelapa
-     1 butir kelapa hijau tanpa sabut
-     Gula jawa 1 tangkep
-     1 ekor ayam jantan
Untuk menjaga kesehatan calon pengantin supaya tidak kedinginan maka ditetapkan tujuh orang yang memandikan, tujuh sama dengan pitu (Jawa) yang berarti pitulung (Jawa) yang berarti pertolongan. Upacara siraman ini diakhiri oleh juru rias (pemaes) dengan memecah kendi dari tanah liat.
8.         Adol dawet
Prosesi adol dawet dilaksanakan setelah siraman. Proses ini dilakukan oleh kedua orang tua calon pengantin wanita. Ibu calon pengantin sebagai penjual, sedangkan bapak nya yang memegang payung untuk memayungi ibu.
Pembeli pada prosesi ini adalah para tamu yang menggunakan uang pecahan berupa genteng atau kreweng. Upacara ini memiliki harapan agar, nantinya pada saat upacara panggih atau resepsi, banyak tamu dan rezeki yang datang.
9.         Upacara Langkahan
Langkahan berasal dari kata dasar langkah (Jawa) yang berarti lompat, upacara langkahan disini dimaksudkan apabila pengantin menikah mendahului kakaknya yang belum nikah , maka sebelum akad nikah dimulai maka calon pengantin diwajibkan minta izin kepada kakak yang dilangkahi.



10.     Midodareni
Midodareni berasal dari kata dasar widodari (Jawa) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00 sampai dengan jam 24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon penganten tidak boleh tidur. Saat akan melaksanakan midodaren ada petuah- petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:
·           Sepasang kembarmayang (dipasang di kamar pengantin)
·           Sepasang klemuk (periuk) yang diisi dengan bumbu pawon, biji-bijian, empon-empon dan dua helai bangun tulak untuk menutup klemuk tadi
·           Sepasang kendi yang diisi air suci yang cucuknya ditutup dengan daun dadap srep (tulang daun / tangkai daun), Mayang jambe (buah pinang), daun sirih yang dihias dengan kapur.
·           Baki yang berisi potongan daun pandan, parutan kencur, laos, jeruk purut, minyak wangi, baki ini ditaruh dibawah tepat tidur supaya ruangan berbau wangi.
Adapun dengan selesainya midodareni saat jam 24.00 calon pengantin dan keluarganya bias makan hidangan yang terdiri dari :
-          Nasi gurih
-          Sepasang ayam yang dimasak lembaran (ingkung, Jawa)
-          Sambel pecel, sambel pencok, lalapan
-          Krecek
-          Roti tawar, gula jawa
-          Kopi pahit dan teh pahit
-          Rujak degan
-          Dengan lampu juplak minyak kelapa untuk penerangan (jaman dulu)




b)     TAHAP PERNIKAHAN
1)        Ijab Qobul
Ijab atau ijab kabul adalah pengesahan pernihakan sesuai agama pasangan pengantin. Secara tradisi dalam upacara ini keluarga pengantin perempuan menyerahkan / menikahkan anaknya kepada pengantin pria, dan keluarga pengantin pria menerima pengantin wanita dan disertai dengan penyerahan emas kawin bagi pengantin perempuan. Upacara ijab qobul biasanya dipimpin oleh petugas dari kantor urusan agama sehingga syarat dan rukunnya ijab qobul akan syah menurut syariat agama dan disaksikan oleh pejabat pemerintah atau petugas catatan sipil yang akan mencatat pernikahan mereka di catatan pemerintah
2)        Panggih
Panggih (Jawa) berarti bertemu, setelah upacara akad nikah selesai baru upacara panggih bias dilaksanaakan,. Pengantin pria kembali ketempat penantiannya, sedang pengantin putri kembali ke kamar pengantin. Setelah semuanya siap maka upacara panggih dapat segera dimulai.
Untuk melengkapi upacara panggih tersebut sesuai dengan busana gaya Yogyakarta dengan iringan gending Jawa :
§  Gending Bindri untuk mengiringi kedatangan penantin pria
§  Gending Ladrang Pengantin untuk mengiringi upacara panggih mulai dari balangan (saling melempar) sirih, wijik (pengantin putri mencuci kaki pengantin pria), pecah telor oleh pemaes.
§  Gending Boyong/Gending Puspowarno untuk mengiringi tampa kaya (kacar-kucur), lambing penyerahan nafkah dahar walimah. Setelah dahar walimah selesai, gending itu bunyinya dilemahkan untuk mengiringi datangnya sang besan dan dilanjutkan upacara sungkeman.
Setelah upacara panggih selesai dapat diiringi dengan gending Sriwidodo atau gending Sriwilujeng. Pada waktu kirab diiringi gending : Gatibrongta, atau Gari padasih.
c)      TAHAP PASCANIKAH
1.      Upacara nggunduh mantu pengantin adat Jawa atau boyongan
Ngunduh mantu terdiri dari dua kata, Ngunduh yang artinya panen atau memanen dan mantu artinya menantu. Bila digabungkan, bukan berarti panen menantu, tetapi arti sebenarnya adalah mendapatkan seorang menantu. Yaitu ketika orangtua menikahkan anak laki lakinya, kemuadian si istri dibawa untuk tinggal bersamasuami dan kedua orang tuanya, maka keluarga tersebut mendapatkan anggota tambahan. Upacara nggunduh mantu biasanya dilaksanakan setelah menyelenggarakan upacara pernikahan di rumah mempelai wanita. Upacara nggunduh mantu dilakukan oleh orangtua mempelai pria dirumahnya dengan mendatangkan kedua pengantin dan keluarga mempelai wanita, acara ini dilangsungkan setelah lima hari sejak digelarnya upacara perkawinan atau orang jawa biasa menyebutnya sepasar (lima hari). Upacara ngunduh mantu dilakukan untuk mngenalkan mempelai wanita kepada keluarga besar dari pihak mempelai pria, sebagai bentuk woro-woro atau pengumuman kepada tetangga bahwa mempelai pria tersebut sudah beristri. Selain itu, upacara ngunduh mantu juga bertujuan untuk mengisyaratkan bahwa pria harus menjadi pelindung, pengayom bagi istri dan anak-anaknya kelak. Dan juga sebagai ungkapan syukur bagi keluarga pengantin pria.

C.            Upacara Daur Hidup dalam Fase Kematian

Fase terakhir adalah kematian, yaitu proses meninggalnya manusia setelah melalui banyak tahapan dalam kehidupan dan mengalami tugas-tugas perkembangan sedari lahir, masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa, hingga tua. Dalam hal ini, upacara tradisi Jawa untuk memperingati kematian dapat diurutkan ke dalam berbagai prosesi.

1.        Lelayu (memberitakan kematian),
2.        Ngrukti Laya (mengurus jenazah dari memandikan, memberangkatkan jenazah, kegiatan sepanjang menuju makam, sampai doa di pemakaman), termasuk urusan administrasi yang berkaitan dengan kematian.
Lalu ada juga upacara ritual kematian yang meliputi :
1)        Selametan Surtanah atau Bedhah Bumi (upacara mempersiapkan liang kubur)
2)        Telung dina (selamatan hari ketiga setelah kematian)
3)        Pitung dina (selamatan hari ketujuh setelah kematian)
4)        Patang puluh dina (selamatan hari keempat puluh setelah kematian)
5)        Satus dina (selamatan seratus harian setelah kematian)
6)        Pendhak pisan (selamatan satu tahun sejak kematian)
7)        Pendhak pindho (selamatan dua tahun sejak kematian)
8)        Sewu dina (selamatan seribu hari setelah kematian).


Thursday, 14 December 2017

COURSES

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
1. HARDWARE
2.MS WORD

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
1. PAI DI UST

PENGANTAR PENDIDIKAN
1. PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN 

BAHASA INDONESIA
1. HAKIKAT WACANA DAN JENIS WACANA

DOWNLOAD

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Friday, 1 December 2017

CONTACT

Nama : DIAH RISTIANA
NIM   : 2017015244
Kelas : 1G


Monday, 3 April 2017

H-7

Benar benar tidak terasa kita udah mau pisah ya, sepertinya baru beberapa hari yang lalu kita masuk kelas 12. Adaptasi lagi sama temen temen yang tahun lalu pisah kelas, awalnya mungkin agak canggung karena kita setahun beda kelas, tetapi akhir akhir ini kita malah ngerasa susah banget nerima kenyataan kalau beberapa hari lagi kita udah mau UN aja ya. Aku ngerasa kelas kita ini kelas yang paling pemberani, setia kawannya tinggi, gokil, dan banyak dihuni orang orang gila. Wah, kita pasti kangen sekaligus menyesal deh waktu kita bareng bareng bolos upacara, dan berangkat ke sekolah pas udah siang. Jahat bgt kan kita :(  dan beberapa jam setelah itu kita sama sama menyesal dengan apa yang udah kita lakuin. Pasti gaada lagi teriakan tawon ketika di kerjain Ichsan sama Sholeh. Bakal kangen sama ips dua yang gapernah sepi. Kalian pasti bakal kangen juga kan bekal makanan yang dibawaain ibuku tiap hari? Hahaha. Biasanya tiap udah siang ngeliat pemandangan makhluk makhluk kecapekan yang kepalanya ditaruh dimeja sambil pake headset. Soal terus soal terus, kata kata yang sering ku dengar saat kalian lengah, tapi itu bakal ngangenin. Bu, izin kekamar mandi ya, bu capek, bu aku laper e, bu pulang, bu istirahat, bu bla bla bla. Bakal kangen sama kursi panjang depan kelas yang jadi saksi kalo kita lagi bengong, bakal bakal bakal banyak yang dikangenin dari dua tahun kita sama sama

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...